Sejarah Jamaah Asy-syahadatain di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal

Tawassul - Dzikir - Sholawat Jamaah Asy Syahadatain
Perjalanan manusia baik menyangkut soal sistem keyakinan (Teologi), kehidupan Sosial, Ekonomi, politik dan lainnya tentu tidak bisa lepas dari kondisi dimana suatu tatanan geografis dan  soial budaya yang mengitarinya ikut membentuk. Dalam hal ini tidak berbeda dengan apa yang terjadi pada Jama‟ah Asy-syahadatain di  Desa Danawarih dalam konteks tertentu, juga telah dibentuk oleh suatu proses sejarah panjang. Jama‟ah Asy-syahadatain ini berlangsung cukup lama di Desa Danawarih.  Bapak Soleh Slamet mengatakan bahwa Jamaah Asy Syahadatain awal mulanya bernama As-sa‟adatain yang artinya dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Dari nama itu kemudian dirubah menjadi Asy Syahadatain yang berasal dari bahasa arab yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul yang disebut dengan dua kalimat syahadat  (Syahadatain).  Kemudian dinamakan Syahadatain itu karena ajaran-ajaran jamaahasy-syahadatain dari awal sampai akhir berkiblat pada Syahadat, baik dimulai dari shalat, dzikir dan amaliyah-amaliyah lainnya dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia di dunia dan di  akhirat.  Asy syahadatain didirikan  pada tahun  1947 oleh Al Habib Umar bin Ismail bin Yahya yang bertempat tinggal di Panguragan
Cirebon Jawa Barat tepatnya di Desa Plumbon. Beliau meninggal dunia pada tanggal 20 agustus 1973 Matau 13 Rajab 1393 H. Ayahnya bernama Habib Ismail bin Yahya dan ibunya bernama Siti Suniah.
Nama Asy-syahadatain merupakan penisbatan dari pengamalan pada tuntunan Syaekhunal Mukarrom Al Habib Abah Umar yang selalu membaca dua kalimat Syahadat (syahadatain). Namun pada dasarnya  Asy-syahdatain
( Wawancara bersama Bapak Soleh Slamet di Masjid Asy-syahadatain Danawarih, selaku
ketua jamaah Asy syahadatain Kabupaten Tegal, hari minggu, 1 April. 2012. 26 )

Asy Syahadatain bukanlah sebuah organisasi ataupun ormas tetapi merupakan sebuah tuntunan ubudiyah dalam menapaki jalan yang diridhoi Allah, bahkan lebih dekat dikatakan sebagai thariqat. Asy-syahadatain pada mulanya adalah sebuah pengajian yang dibimbing oleh Syaekhunal Mukarrom Al Habib Abah Umar bin Ismail bin Yahya, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “pengajian Abah Umar” atau dalam wacana para santrinya dikenal dengan sebutan “Buka Syahadat atau ngaji syahadat” sebab yang beliau sampaikan adalah tuntunan Syahadat (weton saking syarif hidayat) secara syariat, hakikat, thariqat dan ma‟rifat.
Namun dewasa ini lebih dikenal dengan sebutan “jamaah Asy-Syahadatain” Jamaah Asy-syahadatain ini mulai dirintis oleh abah Umar pada tahun 1937 yang pada awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi diwilayah Jawa  Barat, kemudian  dengan seiring berjalannya waktu dilakukan tahapan kedua yang dibuka secara terang-terangan pada tahun 1947 M, dan pusatnya di Panguragan Cirebon. Setelah itu jamaah Asy Syahadatain ini mulai tersebar diberbagai wilayah, diantaranya di Kabupaten Tegal tepatnya Desa Danawarih
Kecamatan Balapulang Kabupaten  Tegal.  Secara resmi organisasi ini diakui oleh Depag pada tahun 2001.
Keberadaan  Jamaah Asy syahadatain  sebagai kelompok keagamaan yang berada di Kabupaten Tegal ini berasal dari Cirebon Provinsi Jawa Barat. Kelompok ini berdiri kurang lebih pada tahun 1954 M di Kabupaten Tegal tepatnya di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang, yang sekarang dipimpin oleh Bapak Masykuri, beliau adalah tokoh spiritual  dalam  Jamaah Asy-syahadatain di Desa Danawarih. Diceritakan  sewaktu beliau kecil sudah ada Jamaah Asy-syahadatain di  Desa ini.  Proses berdirinya jamaah ini berawal
dari kepulangan Bapak Kanafi (almarhum) dari Cirebon sebagai pekerja proyek. Disamping itu dia juga aktif mengikuti pengajian yang didirikan oleh Abah Umar dengan nama pengajian Asy-syahadatain.
                                                           
  ( Abdul Hakim,  Mencari Ridho Alloh,  Munjul Pesantren , Cirebon.
2011, hlm.53 27 )

Jumlah  anggota  Asy-syahadatain  pada awalnya hanya pada lingkup keluarga  Bapak  Kanafi, namun demikian dalam perkembangannya telah diminati oleh beberapa orang tetangga disekitarnya. Secara administrasi  tidak terdapat jumlah yang pasti, hanya saja menurut Bapak Masykuri (pemimpin Asy-syahadatain) jumlah jamaah sekitar 50 orang. Hal ini terlihat ketika acara Tawassulan atau acara besar lainnya yang melibatkan seluruh anggota Jamaah Asy-syahadatain. Kemudian perkembangan kelompok Syahadatain di Desa Danawarih tidak terlalu pesat, hal ini dikaerenakan proses ritualnya yang diselenggarakan ketika dzikir, tahlil maupun tawassulan terlalu lama sehinnga peminatnya tidak banyak. Menurut Bapak Maskuri bahwa keengganan anggota masyarakat untuk tidak mengikuti  dikarenakan tidak kuat untuk mengikuti acara ritual dzikir maupun tawassulan. Kemudian masyarakat Desa Danawarih mengenal kelompok Syahadatain itu dengan istilah Bijahi. Kata Bijahi ini diambil dari do‟a yang dibaca oleh kelompok Syahadatain setelah shalat, bahkan mareka ada yang menganggap bahwa ajaran Syahadatain itu menyesatkan.  Padahal apabila dilihat dari aspek ibadah shalat tidak ada masalah dan bisa diikuti oleh
seluruh umat islam.

  (Wawancara dengan Bapak Maskuri. Di  rumah Bapak Maskuri, selaku ketua Jamaah
Asy-syahatadatain di Desa Danawarih, hari Senin, 26 Mart. 2012. )
Sumber : SKRIPSI mahasiswi  INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

Baca Juga :
Hasil dialog MUI - KPI dan Trans 7 terkait Khazanah Tujuh
Desa Cipeujuh Kulon
Keutamaan Sholat Menggunakan Sorban Dan Jubah Putih
Buku Mencari Ridho Allah



0 komentar:

Komentar

Lainya

Recent news

Jalan Jalan